Ikhlas Hati

30 des ’09……

Stop acting that i’m oke…… 🙂 saya rasa otak saya Rusak saat itu, perasaan saya memacu buat saya berlari meninggalkan semua. Tapi kaki tak bergerak sedikit pun, saya terperosok dalam perangkap saya sendiri. Kesepian, sunyi yg mendera semakin menyakitkan saya. Saya hanya ingin Kedamaian, saya hanya ingin semuanya sesuai dgn apa yg saya mau, saya hanya ingin menjalani apa yg saya mau!!.  Itu saja, beri saya waktu??, tapi nyatanya waktu semakin bergerak gak menentu bahkan terlalu cepat untuk saya raih…… saya mulai menyerah, menyerah pada waktu yg akan membawa saya keputaran yg baru…….. 30 des 09.

Cukup lama saya merenung, ttg apa yg saya pikirkan, saya inginkan dan Gak ada jawabnya disana….. Tertiup angin, terbawa ombak, Hilang. Saya sendiri mulai menata kembali perasaan saya. Saya sadar kekalahan saya, percuma melawan, krn gak akan pernah *Benar*. Berharap? gak akan pernah lagi…….. semua saya tinggalkan disana, berlabuh dgn Tenang. Harap saya… tp nyatanya setelah setahun berlalu pun semua kembali berhembus, bagai angin, bagai deburan ombak. Tp kali ini perasaannya Tdk lagi sama, semua rasa kecewa, kalah, gak menerima, hilang. Kini yg saya rasakan berbeda…… mungkin saya sudah menemukan jawabnya….. ;-). Lebih baik begini….. tp terkadang rasa itu *Kuat* menghambat, but it’s oke….. kali ini jalannya udah berbeda… saya gak akan mungkin kembali, saya gak mungkin memaki, atau menghapusnya untuk kembali…..

Dan Hari ini 30 des 10….

Saya mengingatnya kembali………. TerimaKasih, krn tanpa hari kemarin, mungkin saya gak akan seperti ini. Saya belajar banyak hal, dr Kisah perjalanan hidup saya. Saya belajar bahwa gak selamanya apa yg kita *mau* akan terwujud, tp tetap apapun itu bila memang *waktu* nya terjadi ya terjadilah……. 🙂

Hari ini……. saya hanya bisa tersenyum menatap langit….. berbicara pada Mu …… bahwa saya akan selalu tetap disamping Mu, dlm Doa, Kasih yg tak nampak….. 🙂

 

because of Lov That bring me there

ucingeong

Kiss n Hug

*Kapok day*

Sedikit lagi….. iya harusnya saya musti lebih hati2 menjalani kehamilan pertama saya ini. Maaf bukannya saya gak peduli tp Hamil bukan berarti mengalami *Sakit* kan? so saya jalani hari2 saya seperti biasa. Iya biasa…. saking biasanya saya *sedikit Lupa* :-D, Kapok itu yg saya rasain :-). Hmmmm….. sedikit cerita, saking saya cintanya sembahyang dipura gunung salak, dr kehamilan kecil sampai sebesar ini saya tetap *Kangen* kesana……. dan kemarin saya n klg kembali kesana. Sembahyang untuk kelancaran kelahiran sikecil nanti…….. *Astungkara*

Perjalanan hari itu gak berhenti hanya ritual sembahyang saja, tapi sekalian *berendam* hehehehehe. didaerah sana ada mata air pegunungan, yg namanya pegunungan pastinya aernya dingin kan? 😀 dan saya tetep nekat buat terjun (red. Renang) hahahaha…… masalahnya saya ngidam euy :-D. Gak kapok hari itu acara gak berhenti2, makan gak kontrol (kebanyakan makan gorengan) :-P. tp kondisi saya masih aja diatas normal…… 🙂 besoknya selagi badan *Fit* n kondisi sikecil baik2 saja, lanjut bantuin ajik n suami (nyuci mobil) hahahaha…. perut udah gede masih aja suka deket2 sama mobil. Padahal udah rada2 nyesek klo nunduk2, but it’s oke, saya terlalu jagoan, terlalu memaksakan (mungkin) tp sekali lagi saya menikmatinya……. 😉 dan saya pun bergerak lagi, kali ini beli perlengkapan sikecil…… *jalan terus gak berhenti* :-D. belum juga stamina saya droop, perjalanan dua hari yg gak berhenti membuat saya lupa diri…..

Dan akhirnya Ambruk …. Panas yg nyaris 40, dilariin kerumah sakit ditengah malam, rasa menggigil (i’m thinking i’m going to die) :-(. Seumur hidup masangin Oksigen keorang kali ini dipasang dihidung sendiri….. dan… Terima Kasih Tuhan my bybie baik2 aja. cuma sedikit masalah dgn denyutannya yg lebih dr normal. dan hr itu adalah hal yg *terkapok* yg pernah saya alami….. 🙂 setidaknya ibu hamil memang harus tau diri, dimana porsinya harus benar2 istirahat, tau diri juga kalau sebenarnya sikecil juga butuh istirahat hehehehe :-). dan Bedrest lah saya selama 3 hr, tp tetap beraktifitas juga (devil). well saya memang gak bisa diam lemah gak berdaya, tp sekarang saya tau diri. Dimana saatnya stop dan mulai kembali. hmmmmmm saya kapok tuhan suerr deh……. mudah2n gakl ada apa2 lagi sampai si kecil Lahir… mudah2n semua lancar….. for my bybie inside maafin ibu ya nak….. Lov u so muchhhhhh u’re the best that i ever had (heart).

dan……. saya mau istirahat dulu….. see yaaaaaaaa……..

 

Ucing_eong

kiss n hug

Kasih Dalam Perbedaan

“Menyama Braya” di Bali
Kamis, 23 Desember 2010 | 10:00 WIB
Warga membawa sesaji untuk diletakkan di petak atau tempat bagi 68 jenazah warga yang akan di kremasi/ngaben di Puri Agung Ubud, Gianyar, Bali, Senin (14/7). 68 jenazah itu akan dikremasi di hari yang sama dengan upacara ngaben/plebon keluarga raja Puri Agung Ubud pada hari Selasa (15/7).
Ayu Sulistiyowati
KOMPAS.com – Desember tahun ini istimewa! Umat Hindu dan umat Kristiani di ”Pulau Dewata” hampir merayakan hari raya Galungan, Kuningan, dan Natal secara bersamaan. Tanpa sekat, mereka menyama braya (gotong royong) demi berbagi kebahagiaan dan kasih….
Setiap Natal menjelang, para pecalang bersiap melibatkan diri. Mereka bahu-membahu dengan polisi mengamankan dan mengatur arus lalu lintas di depan sejumlah gereja di Denpasar, Bali. Kehadiran mereka turut menambah kekhusyukan umat Kristiani beribadah.
Siapa itu pecalang?
Mereka adalah petugas keamanan tradisional yang lazim terdapat di setiap banjar di Pulau Dewata. Nah, sebagai warga asli setempat, mereka mengetahui persis apa pun kegiatan banjar sampai ke desa. Mereka yang bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban jalan dalam setiap kegiatan adat umat Hindu Bali atau kegiatan di pura dan sekitar banjarnya. Tanpa mereka, pengguna jalan bisa mengumpat tak habis-habisnya karena jalan macet sebagai dampak dari penggunaan separuh jalan untuk ritual adat.
Polisi pun terbantu dengan keberadaan para pecalang ini. Pendekatan pecalang yang bersifat kultural menjadi kekuatan mereka.
Selain kompak, mereka juga sudah berseragam. Udeng (ikat kepala khas Bali) di kepala dan kain kotak-kotak hitam-putih menjadi pakaian khas pecalang. Kadangkala, beberapa banjar malah menyablon identitas khusus di bagian belakang kaus atau rompi sehingga penampilan pecalang menjadi lebih berwibawa.
Dalam perkembangannya, pecalang tak hanya menjadi aparat keamanan tradisional setempat. Mereka membantu siapa pun yang membutuhkan. Siapa pun maksudnya adalah warga mana pun, lepas dari agama, latar belakang, dan suku. Contohnya, sejumlah gereja memanfaatkan keberadaan pecalang untuk membantu umat agar bisa beribadah dengan tenang dan aman tanpa beban gangguan jalanan atau pengaturan parkir.
”Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami diminta membantu penjagaan gereja bersama para polisi. Natal itu, ya, saatnya menyama braya (gotong-royong) dengan umat lain. Umat Muslim pun dibantu penjagaannya seperti ada acara buka puasa bersama sampai Lebaran. Ini demi ketertiban bersama. Ini wilayah bersama yang harus dijaga bersama-sama. Tanpa membedakan siapa dan apa agama yang dianutnya,” kata Nyoman Sudarsana, Prajuru Banjar Bun, Denpasar.
Sementara di tempat berbeda, aura kebersamaan terasa kental di halaman Gereja Bethel Indonesia Denpasar Lembah Pujian Rock Ministry pada awal Desember pagi lalu. Panitia membagikan sedikitnya 320 kupon belanja seharga Rp 75.000 per orang kepada warga sekitar Peguyangan, Denpasar. Kupon itu bisa dibelanjakan sesuka hati dari barang yang disediakan mulai sembako sampai baju trendi yang murah harganya.
Lagi-lagi semua ini dilakukan atas nama toleransi dan kebersamaan. ”Ini tumben-tumbennya bisa bersamaan merayakan hari raya bersama umat Hindu dan Kristiani. Karenanya, kami perlu berbagi bahagia bersama dengan berbagi kupon sembako dan baju murah. Seru!” kata Panitia Lembah Pujian Lukas Bundi.
Buah-buahan yang biasa dibutuhkan saat Galungan pun menjadi komoditas utama yang dijual dengan harga miring. Lukas dan kawan-kawan membagikan pula bingkisan berisi mi instan, sikat gigi, serta kupon undian. Kupon-kupon ini diberikan khusus untuk masyarakat penganut Hindu.
Menyama braya pun terasa ketika ada warga Hindu punya hajatan. Pada kesempatan itu, giliran warga yang tak seagama turut membantu menyiapkan sarana upacara. Benar-benar tanpa sekat….
Men Patmi (65) contohnya. Warga Kerobokan, Kabupaten Badung, ini menganut Kristiani. Namun, pengetahuan soal prasarana dan sarana upacara adat tetap tak ditinggalkannya. Konsep menyama braya pun melekat di warga.
Bagi Men Patmi, pengetahuannya ini menjadi modal untuk tetap bisa berkumpul dan berbagi dengan para saudara dan tetangganya. ”Agama tiyang (saya) memang berbeda karena memeluk Kristiani. Tetapi, tiyang orang Bali dan memiliki adat yang sama dengan saudara tiyang di sini,” katanya sambil tersenyum.
Banyak Patmi lain di Bali. Karena, mereka lekat dengan konsep, apa pun yang ditanam, Hyang Widhi pasti mengembalikannya, kebaikan maupun keburukan, yakni karma.
Di Bali, warga lokal berupaya menjunjung kebersamaan dengan mereka yang datang karena menyama menjadi modal kenyamanan hidup. Itulah Pulau Dewata…. Santhi, santhi, santhi (damai, damai, damai)….
 
 
 
 
Ini inspirasi saya pagi ini, setelah gila2an dioffice bawah…. ya… dgn org2 yg saya kasihi, dgn segala perbedaan yg ada didiri kami masing2. Kami memang berbeda, dan perbedaan itu justru saling menguatkan kami satu dgn yg lainnya. ambil aja satu contoh, kepercayaan kami, kalau dibilang Bhineka tunggal ika, iya itulah kami. Kepercayaan kami memang Berbeda tapi kami selalu satu dlm Iman yaitu *Cinta Kasih*, cinta pada ajaran2 kami yg berlandas akan Cinta kasih sesama, sekali lagi Tanpa perbedaan siapa kami?! status, harta kekayaan, kepopuleran, Not at all…. kami *Sama*. Dan satu meski kami berbeda, kami selalu memberi *KASIH* tanpa pamrih, memberi kebahagian, tawa, saling menguatkan, memberi senyum setiap harinya….. Ya itu lah kami….
Diantara tumpukan kertas, diantara tumpukan masalah, diantara segudang pemikiran yg ada, kami tetap bersama dlm perbedaan.
Dan disinilah kami bersama membangun *kasih* dilingkungan kecil kami, selalu tanpa sekat perbedaan, tanpa pamrih dlm kasih sesama…..
Hmmm pengen nangis deh ninggalin sebuah keluarga kecil disini, mengingat waktu saya cuma satu bulan lagi gila2an dioffice bawah….. bersama mereka. Tp saya yakin Kasih mereka yg membawa saya dalam kebaikan, membawa saya kemimpi saya, dan kasih mereka akan selalu membawa saya dimanapun saya berada…… *Tak ada perbedaan, menyebar kasih tiada henti, membawa spirit kebahagiaan dan membuat org lain bahagia….*
apalagi yg harus saya tulis?? tiada yg lain hanya ucapan syukur krn kalian selalu menyertai saya, kasih sayang kalian yg membuat saya selalu *berbeda*, dan TerimaKasih krn selalu memberikan kasih yg tiada henti. Tanpa adanya perbedaan, tanpa pamrih……. hikkkks sedihhh 😦
 
Dan mari ber *Menyama braya* artinya bersaudara dalam perbedaan (ini arti buat saya sendiri). Indahnya Bersaudara bersama kalian dalam perbedaan…….
Dan akhirnya TerimaKasih yg mendalam…… atas semuanya… (blm pamitan yah…)
hahaha masih ada satu bulan lagi…. dan mari menularkan *menyama braya* 😀
 
Lov u all
 
ucing_eong
kiss n hug

Miracle of Hope

Miracle…………

Jgn pernah menyerah dalam mimpi mu, apapun itu. dan Saya menyimpannya baik2 diBank (red pikiran, hati), tanpa ada yg tahu. Saya menumbuhkannya secara perlahan, kegagalan demi kegagalan saya lewati, rasa pahitnya (kecewa), tangisnya bahkan materi yg gak sedikit untuk *sebuah* mimpi. Bertahun2 saya *meYakininya*, meski kadang rasa Sabar perlahan menghilang, kepercayaan memudar. Saya bertahan, Bertahan bersama Doa2 saya, bertahan bersama tangis dan kecewa saya, bertahan dlm sisi kesabaran saya yg mulai memudar. saya *YAKIN!*

 Miracle…..

Semula saya gak pernah *Tahu* apa itu…. mimpi….. hanya sebatas itu, gak akan ada *Mimpi* yg nyata, (katanya mimpi bunga tidur atau hanya sebatas impian) gak akan pernah *nyata* atau benar2 adanya (real, nyata). Hmmm dan akhirnya…. *Ini* jawabnya…. Mimpi itu kan nyata bila kita *Percaya*, percaya akan adanya, percaya kita bisa memilikinya (usaha, doa, dll), percaya …… hanya itu. buat saya ada satu lagi tambahannya, percaya, usaha berdoa dan terakhir pasrah….. 🙂 pasrah dlm artian saya, memulai lagi yg baru, memupuk kembali yg hilang. Menambahkan yg kurang, teguh berusaha……. dan bila Tuhan belum berkehendak, itu memang jalannya (menerima). Begitu seterusnya… sampai *waktu* menjawab, sampai akhirnya *ADA JAWABNYA* 😉

Miracle……

Gak ada yg mungkin, semua mungkin…… tergantung apa kata -NYA, tergantung *KITA*…… dan teruslah bermimpi……. buat menjadi *Nyata*……

Jgn berhenti Berharap, krn tanpa *Harapan* hidup akan menjadi sia2 (ekh gt yah?? kata org2 loh… :-P)

Hmmm….. mari kita ramai2 ber*Mimpi*…… (ketemu disana ya……) 🙂

Next Miracle…

My Hope Never End

*Kiss n Hug*

Ucingeong