Kasih Dalam Perbedaan

“Menyama Braya” di Bali
Kamis, 23 Desember 2010 | 10:00 WIB
Warga membawa sesaji untuk diletakkan di petak atau tempat bagi 68 jenazah warga yang akan di kremasi/ngaben di Puri Agung Ubud, Gianyar, Bali, Senin (14/7). 68 jenazah itu akan dikremasi di hari yang sama dengan upacara ngaben/plebon keluarga raja Puri Agung Ubud pada hari Selasa (15/7).
Ayu Sulistiyowati
KOMPAS.com – Desember tahun ini istimewa! Umat Hindu dan umat Kristiani di ”Pulau Dewata” hampir merayakan hari raya Galungan, Kuningan, dan Natal secara bersamaan. Tanpa sekat, mereka menyama braya (gotong royong) demi berbagi kebahagiaan dan kasih….
Setiap Natal menjelang, para pecalang bersiap melibatkan diri. Mereka bahu-membahu dengan polisi mengamankan dan mengatur arus lalu lintas di depan sejumlah gereja di Denpasar, Bali. Kehadiran mereka turut menambah kekhusyukan umat Kristiani beribadah.
Siapa itu pecalang?
Mereka adalah petugas keamanan tradisional yang lazim terdapat di setiap banjar di Pulau Dewata. Nah, sebagai warga asli setempat, mereka mengetahui persis apa pun kegiatan banjar sampai ke desa. Mereka yang bertanggung jawab untuk menjaga ketertiban jalan dalam setiap kegiatan adat umat Hindu Bali atau kegiatan di pura dan sekitar banjarnya. Tanpa mereka, pengguna jalan bisa mengumpat tak habis-habisnya karena jalan macet sebagai dampak dari penggunaan separuh jalan untuk ritual adat.
Polisi pun terbantu dengan keberadaan para pecalang ini. Pendekatan pecalang yang bersifat kultural menjadi kekuatan mereka.
Selain kompak, mereka juga sudah berseragam. Udeng (ikat kepala khas Bali) di kepala dan kain kotak-kotak hitam-putih menjadi pakaian khas pecalang. Kadangkala, beberapa banjar malah menyablon identitas khusus di bagian belakang kaus atau rompi sehingga penampilan pecalang menjadi lebih berwibawa.
Dalam perkembangannya, pecalang tak hanya menjadi aparat keamanan tradisional setempat. Mereka membantu siapa pun yang membutuhkan. Siapa pun maksudnya adalah warga mana pun, lepas dari agama, latar belakang, dan suku. Contohnya, sejumlah gereja memanfaatkan keberadaan pecalang untuk membantu umat agar bisa beribadah dengan tenang dan aman tanpa beban gangguan jalanan atau pengaturan parkir.
”Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami diminta membantu penjagaan gereja bersama para polisi. Natal itu, ya, saatnya menyama braya (gotong-royong) dengan umat lain. Umat Muslim pun dibantu penjagaannya seperti ada acara buka puasa bersama sampai Lebaran. Ini demi ketertiban bersama. Ini wilayah bersama yang harus dijaga bersama-sama. Tanpa membedakan siapa dan apa agama yang dianutnya,” kata Nyoman Sudarsana, Prajuru Banjar Bun, Denpasar.
Sementara di tempat berbeda, aura kebersamaan terasa kental di halaman Gereja Bethel Indonesia Denpasar Lembah Pujian Rock Ministry pada awal Desember pagi lalu. Panitia membagikan sedikitnya 320 kupon belanja seharga Rp 75.000 per orang kepada warga sekitar Peguyangan, Denpasar. Kupon itu bisa dibelanjakan sesuka hati dari barang yang disediakan mulai sembako sampai baju trendi yang murah harganya.
Lagi-lagi semua ini dilakukan atas nama toleransi dan kebersamaan. ”Ini tumben-tumbennya bisa bersamaan merayakan hari raya bersama umat Hindu dan Kristiani. Karenanya, kami perlu berbagi bahagia bersama dengan berbagi kupon sembako dan baju murah. Seru!” kata Panitia Lembah Pujian Lukas Bundi.
Buah-buahan yang biasa dibutuhkan saat Galungan pun menjadi komoditas utama yang dijual dengan harga miring. Lukas dan kawan-kawan membagikan pula bingkisan berisi mi instan, sikat gigi, serta kupon undian. Kupon-kupon ini diberikan khusus untuk masyarakat penganut Hindu.
Menyama braya pun terasa ketika ada warga Hindu punya hajatan. Pada kesempatan itu, giliran warga yang tak seagama turut membantu menyiapkan sarana upacara. Benar-benar tanpa sekat….
Men Patmi (65) contohnya. Warga Kerobokan, Kabupaten Badung, ini menganut Kristiani. Namun, pengetahuan soal prasarana dan sarana upacara adat tetap tak ditinggalkannya. Konsep menyama braya pun melekat di warga.
Bagi Men Patmi, pengetahuannya ini menjadi modal untuk tetap bisa berkumpul dan berbagi dengan para saudara dan tetangganya. ”Agama tiyang (saya) memang berbeda karena memeluk Kristiani. Tetapi, tiyang orang Bali dan memiliki adat yang sama dengan saudara tiyang di sini,” katanya sambil tersenyum.
Banyak Patmi lain di Bali. Karena, mereka lekat dengan konsep, apa pun yang ditanam, Hyang Widhi pasti mengembalikannya, kebaikan maupun keburukan, yakni karma.
Di Bali, warga lokal berupaya menjunjung kebersamaan dengan mereka yang datang karena menyama menjadi modal kenyamanan hidup. Itulah Pulau Dewata…. Santhi, santhi, santhi (damai, damai, damai)….
 
 
 
 
Ini inspirasi saya pagi ini, setelah gila2an dioffice bawah…. ya… dgn org2 yg saya kasihi, dgn segala perbedaan yg ada didiri kami masing2. Kami memang berbeda, dan perbedaan itu justru saling menguatkan kami satu dgn yg lainnya. ambil aja satu contoh, kepercayaan kami, kalau dibilang Bhineka tunggal ika, iya itulah kami. Kepercayaan kami memang Berbeda tapi kami selalu satu dlm Iman yaitu *Cinta Kasih*, cinta pada ajaran2 kami yg berlandas akan Cinta kasih sesama, sekali lagi Tanpa perbedaan siapa kami?! status, harta kekayaan, kepopuleran, Not at all…. kami *Sama*. Dan satu meski kami berbeda, kami selalu memberi *KASIH* tanpa pamrih, memberi kebahagian, tawa, saling menguatkan, memberi senyum setiap harinya….. Ya itu lah kami….
Diantara tumpukan kertas, diantara tumpukan masalah, diantara segudang pemikiran yg ada, kami tetap bersama dlm perbedaan.
Dan disinilah kami bersama membangun *kasih* dilingkungan kecil kami, selalu tanpa sekat perbedaan, tanpa pamrih dlm kasih sesama…..
Hmmm pengen nangis deh ninggalin sebuah keluarga kecil disini, mengingat waktu saya cuma satu bulan lagi gila2an dioffice bawah….. bersama mereka. Tp saya yakin Kasih mereka yg membawa saya dalam kebaikan, membawa saya kemimpi saya, dan kasih mereka akan selalu membawa saya dimanapun saya berada…… *Tak ada perbedaan, menyebar kasih tiada henti, membawa spirit kebahagiaan dan membuat org lain bahagia….*
apalagi yg harus saya tulis?? tiada yg lain hanya ucapan syukur krn kalian selalu menyertai saya, kasih sayang kalian yg membuat saya selalu *berbeda*, dan TerimaKasih krn selalu memberikan kasih yg tiada henti. Tanpa adanya perbedaan, tanpa pamrih……. hikkkks sedihhh 😦
 
Dan mari ber *Menyama braya* artinya bersaudara dalam perbedaan (ini arti buat saya sendiri). Indahnya Bersaudara bersama kalian dalam perbedaan…….
Dan akhirnya TerimaKasih yg mendalam…… atas semuanya… (blm pamitan yah…)
hahaha masih ada satu bulan lagi…. dan mari menularkan *menyama braya* 😀
 
Lov u all
 
ucing_eong
kiss n hug
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s